tanyadokter2

Newsletter

Saya ingin Berlangganan Artikel

Tips Seputar Nutrisi

7 Tips Ajari Si Kecil Tak Ngompol Lagi

Ngompol (enuresis) merupakan gangguan yang sering dijumpai pada anak. Usia di bawah 3 tahun biasanya anak masih ngompol. Pada usia di atas 3 tahun pada umumnya anak sudah tidak ngompol pada siang hari. Anak dikatakan ngompol tidak normal bila ngompol terjadi terus menerus atau menetap di atas usia 5 tahun. Sebelum usia 5 tahun, ngompol  pada anak masih dapat dianggap normal. Ngompol biasanya membaik dengan bertambahnya usia. Ngompol pada anak harus mendapat penanganan yang benar karena dampaknya dapat terjadinya infeksi saluran kemih, menyebabkan stres dan kurang percaya diri.

Berapa sering anak mengalami gangguan ngompol?

Pada bayi baru lahir sampai usia 1 bulan, frekuensi buang air kecil normal dapat sampai 20 kali dalam sehari. Seiring dengan bertambahnya usia frekuensi buang air kecil berkurang. Usia 4 tahun sekitar 30% anak masih ngompol, usia 5 tahun 10 % dan usia 18 tahun sekitar 1% anak masih ngompol.

Apakah semua jenis ngompol sama saja?

Ada beberapa jenis ngompol pada anak. Anak dikatakan mengalami ngompol primer apabila ia masih ngompol terus-menerus sejak bayi. Ngompol sekunder adalah ngompol yang terjadi paling sedikit 6 bulan pada anak yang sebelumnya sudah tidak ngompol. Ngompol malam hari adalah ngompol yang terjadi pada saat anak tidur malam hari. Namun demikian, ada pula ngompol yang terjadi saat anak terjaga atau tidak tidur. Anak yang hanya ngompol pada malam hari saja disebut mengalami monosymptomatic enuresis (MEN), suatu keadaan yang didapatkan pada 80–85% anak. Sedangkan 5–10% mengalami gejala lain selain ngompol malam hari yaitu ngompol siang hari, gangguan buang air besar misalnya ngebrok ataupun sembelit. Keadaan ini disebut polysymptomatic enuresis nocturna (PEN).

Apa saja penyebab ngompol?

Penyebab ngompol secara pasti sulit diketahui, sehingga sering membuat frustasi baik dokter, keluarga maupun anak yang mengalami, akibatnya anak maupun keluarga sering menjadi stres dan tidak percaya diri.

Beberapa penyebab ngompol antara lain apabila anak mengalami infeksi saluran kemih, gangguan struktur ginjal dan saluran kemih, gangguan sistem syaraf pada ginjal dan salurannya, sembelit, gangguan tidur yang disebut obstructive sleep apnea yaitu tersumbatnya saluran nafas saat tidur, maupun akibat gangguan psikologis.

Ngompol malam hari dapat disebabkan oleh gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, obstructive sleep apnea, kecemasan misalnya karena perceraian orang tua, pindah sekolah, atau punya adik baru. Ngompol malam hari dapat pula disebabkan kelainan genetik, yaitu diturunkan dari salah satu maupun kedua orangtua, produksi air kemih berlebihan di malam hari akibat hormon antidiuretik berkurang, serta gangguan sistem syaraf daerah kandung kemih yang disebut gangguan kandung kemih neurogenik.

Beberapa keadaan dapat menyebabkan ngompol siang hari yaitu infeksi saluran kemih, gangguan struktur organ saluran kemih, kontraksi kandung kemih berlebihan (overactive bladder), serta pengeluaran urin dari kandung kemih yang tidak tuntas,

Bagaimana penanganan anak ngompol ?

Pada umumnya anak ngompol akan membaik dengan bertambahnya usia, tumbuh dan berkembangnya anak. Terapi yang dilakukan antara lain

  1. Melatih kandung kemih atau bladder training adalah melatih otot dasar panggul untuk menahan buang air kecil.
  2. Anak dianjurkan buang air kecil secara teratur tiap 2 jam.
  3. Menghindari makanan atau minuman yang mengandung kafein karena kafein merangsang untuk sering buang air kecil.
  4. Mempergunakan alarm untuk membangunkan anak malam hari untuk buang air kecil.
  5. Minum cukup pada siang hari dan tidak minum malam hari menjelang tidur.
  6. Buang air besar teratur.
  7. Berkonsultasilah dengan dokter apabila mengalami anak mengalami kesulitan mengendalikan buang air kecil baik siang maupun malam hari. Dokter akan meresepkan obat-obatan tertentu apabila diperlukan.

Sumber : http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/ngompol-pada-anak

Share
Posted by Admin in Kesehatan Anak  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *